Senin, 13 Juni 2011

Analisis Novel "Bunga Roos Dari Cikembang" Karya: Kwee Tek Hoay

Bunga Roos Dari Cikembang adalah salah satu novel yang ditulis oleh penulis Tionghoa, yaitu Kwee Tek Hoay. Dalam novel ini, Kwee Tek Hoay mencoba menggambarkan hubungan antara etnis Cina, (Tionghoa), Belanda, dan pribumi. Salah satu hal yang menarik untuk disoroti adalah jejak kebangsaan yang coba ditampilkan dalam latar dan tokoh yang ada dalam novel Bunga Ros Dari Cikembang ini.
Tokoh Tionghoa Indonesia digambarkan sebagai orang yang memiliki kekayaan, kemashuran, dan peningkatan derajat yang disebabkan oleh usaha yang mereka rintis dengan sungguh-sungguh dan susah payah. Akan tetapi ada yang menarik, para saudagar Tionghoa Indonesia umumnya mempunyai seorang nyai yang hidup bersama mereka. Contohnya ada dalam tokoh Ay Tjeng yang mempunyai seorang nyai yang bernama Marsiti. Nyai yang bernama Marsiti inilah yang membuat kehidupan Ay Tjeng menjadi berwarna, ada suka dan ada duka.  Begitu juga tokoh Ken Djim yang tidak lain adalah mertua dari Ay Tjeng yang diam-diam ternyata memiliki seorang nyai yang ia pelihara semasa waktu muda, akan tetapi hal ini baru ia katakan kepada anak dan menantunya beberapa sat sebelum ia meninggal. Sepertinya, tradisi unruk memelihara nyai ini sudah menjadi kewajaran tersendiri bagi orang Tionghoa sebelum ia mempunyai istri dari kalangan Tionghoa juga. Bahkan hubungan ini sampai membuahkan benih yaitu seorang anak.
Fenomena kepemilikan nyai yang diceritakan oleh Kwee Tek Hoay dalam novel Bunga Roos Dari Cikembang inilah yang menyebabkan novel ini tidak diterbitkan di Balai Pustaka karena isi dari novel ini tidak mencerminkan sebuah hubungan yang tidak baik menurut redaktur Balai Pustaka yang pada waktu itu adalah penjajah di Republik Indonesia, yaitu orang-orang Belanda. Hal ini karena orang Belanda sangat fanatik terhadap agama Kristen Protestan yang mereka anut sangat menghargai hubungan suami istri.
Sebagai perantau di Indonesia, ternyata orang Tionghoa Indonesia dalam novel ini mempunyai rasa cinta tanah air yang tinggi terhadap Negara asalnya (Tiongkok). Salah satunya digambarkan dalam tokoh Bian Koen yang ingin pulang ke Tiongkok untuk menjadi tentara dan siap mati untuk negaranya sebagai seorang tentara. Keinginan Bian Koen untuk menjadi tentara  ini muncul setelah ia ditinggal mati oleh kekasih tercintanya Lily yang tidak lain adalah puteri dari Ay Tjeng. Hal lain yang digambarkan Kwee Tek Hoay tentang Tionghoa Indonesia dalam novel Bunga Roos Dari Cikembang ini adalah sebagai orang yang terpelajar. Hal ini digambarkan oleh tokoh Gwat Nio dan Bian Koen yang menuntut ilmu sampai ke perguruan tinggi. Bahkan Bian Koen adalah salah satu lulusan dari Amerika.
Sementara itu tokoh pribumi digambarkan sebagai seseorang yang lemah, pasrah, lugu, menurut, dan setia. Hal ini ditunjukkan dalam tokoh Marsiti yang tidak lain adalah Nyai dari Ay Tjeng. Walaupun dirinya hidup sebagai Nyai yang dipelihara oleh Ay Tjeng, akan tetapi hati Marsiti sangat menyayangi Ay Tjeng, begitu juga sebaliknya Ay Tjeng kepada Marsiti. Kesetiaan Marsiti terjaga sampai akhir hayatnya. Kepergian Marsiti dari rumah Ay Tjeng dikarenakan Marsiti merelakan dan memudahkan pernikahan Ay Tjeng dan Gwat Nio yang tidak lain adalah puteri dari pengusaha kaya Ken Djim. Walaupun rasanya berat meninggalkan Ay Tjeng, akan tetapi Marsiti rela asalakan Ay Tjeng mendapatkan keberuntungan dari pernikahannya bersama. Walaupun perpisahan ini berkat campur tangan calom mertua dan orang tua Ay Tjeng untuk memisahkan Ay Tjeng dan Marsiti.
Satu lagi kesetiaan yang ditunjukan oleh karta seorang bujang yang dimiliki oleh keluarga Ay Tjeng. Karena keprihatinan ia terhadap hubungan Ay Tjeng dan Marsiti, akhirnya ia memilih untuk menjaga Marsiti setelah keluar dari rumah Ay Tjeng atas kehendak orang tua dan Ay Tjeng. Bahkan Karta  menjaga rahasia ini sampai Marsiti meninggal dan merawat anak Marsiti yang ia kandung sebelum ia keluar dari rumah Ay Tjeng. Akan tetapi kehamilan ini tidak dikeyahui oleh Ay Tjeng dan keluarga. Anak Marsiti hasil hubungannya dengan Ay Tjeng diberi nama Roos yang nantinya akan menjadi istri dari Bimn Koen setelah kematian Lily puteri dari Ay Tjeng dan Gwat Nio. Sungguh hal yang mengejutkan, Roos anak hasil hubungan Ay Tjeng dan Marsiti ternyata memilki kemiripan dengan Lily yaitu anak hasil hubungan Ay Tjeng dan Gwat Nio. Karena parasnya yang sangat cantik, Roos dijuluki oleh penduduk setempat dengan sebutan Bunga Roos Dari Cikembang.
Sementara itu, ternyata orang Belanda dan Tionghoa Indonesia mempunyai beberapa persamaan. Salah satu persamaannya adalah orang Belanda dan Tionghoa sama-sama “gemar” memelihara nyai. Bahkan ada orang Tionghoa  yang memelihara Nyai lebih dari satu orang, yaitu Ken Djim yang tidak lain adalah mertua dari Ay Tjeng. Bahkan Gwat Nio yang tidak lain adalah istri dari Ay Tjeng ternyata anak hasil hubungannya dengan Nyai. Dan setelah diselidiki, ternyata Gwat Nio dan Marsiti adalah saudara.
Walaupun dalam cerita ini menceritakan kedudukan pribumi sebagai Nyai dan bujang, akan tetapi peranan dari tokoh pribumi yang diceritakan Kwee Tek Hoay dalan novel Bunga Roos Dari Cikembang menjadi kunci dari kebahagiaan yang akhirnya didapat oleh keluarga Ay Tjeng. Kemiripan Roos  anak dari Marsiti dengan Lili puteri dari Gwat Nio menyebabkan Bin Koen bangkit dari kesedihannya setelah ditinggal mati oleh Lily dan akhirnya Bin Koen dan Roos pun menikah dan dikaruniai anak. Kerelaan Marsiti meninggalkan rumah Ay Tjeng menyebabkan Ay Tjeng dan Gwat Nio menikah. Walaupun pada pertengahan cerita keluarga Ay Tjeng dan Gwat Nio dilanda musibah dengan meninggalnya Lily, akan tetapi pada akhirnya mereka hidup bahagia dengan mempunyai anak menantu dan cucu yang memberikan hiburan di masa tua Ay Tjeng dan Gwat Nio. Bahkan dalam akhir cerita, Marsiti hadir dengan perantara cucu Ay Tjeng ntuk menyaksikan kebahagiaan keluarga Ay Tjeng dan menepati janji Marsiti kepada Ay Tjeng untuk menaburi rumah Ay Tjeng dengan bunga yang dibawa oleh Marsiti sebelum ia pergi dari rumah Ay Tjeng dan akan memberikannya kepda Ay Tjeng setelah ia mempunyai seorang istri dari bangsanya sendiri.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar